Motivation Tidak Selalu Sama: Cara Menemukan Pemicu yang Membuat Anda Mau Bergerak
Setiap orang bisa memiliki tujuan yang sama, tetapi alasan yang membuat mereka mau bergerak bisa sangat berbeda. Ada orang yang bersemangat ketika membayangkan hasil yang ingin dicapai. Ada juga yang justru lebih terdorong ketika membayangkan masalah yang ingin dihindari.
Perbedaan seperti ini penting untuk dipahami karena motivasi bukan sekadar soal “kurang niat”. Kadang masalahnya adalah cara kita membingkai tujuan tidak sesuai dengan pemicu yang paling kuat bagi diri sendiri.
Salah satu pendekatan yang sering dibahas dalam NLP (Neuro-Linguistic Programming) adalah pola motivasi toward dan away-from. Pendekatan ini menarik untuk dijadikan alat refleksi, meskipun sebaiknya tidak dianggap sebagai klasifikasi kepribadian yang mutlak atau diagnosis psikologis.
Mengenal Dua Pola Motivasi
Secara sederhana, pendekatan ini membedakan dua cara seseorang memandang tujuan.
1. Motivasi menuju sesuatu
Pola toward berfokus pada apa yang ingin diperoleh.
Misalnya:
-
ingin memiliki penghasilan lebih besar,
-
ingin mendapatkan pekerjaan yang lebih baik,
-
ingin memiliki tubuh yang lebih bugar,
-
ingin membangun bisnis sendiri,
-
ingin menguasai keterampilan baru.
Orang dengan kecenderungan seperti ini biasanya lebih mudah membayangkan hasil positif yang menunggu di depan.
Daripada berpikir, “Saya tidak mau terus berada dalam pekerjaan ini,” mereka mungkin lebih termotivasi dengan pikiran, “Saya ingin memiliki pekerjaan yang memberi saya lebih banyak kebebasan.”
Perbedaan kalimatnya sederhana, tetapi cara melihat tujuannya berubah.
2. Motivasi menjauh dari sesuatu
Pola away-from berfokus pada kondisi yang ingin dihindari atau diubah.
Contohnya:
-
ingin keluar dari masalah keuangan,
-
tidak ingin terus bekerja tanpa perkembangan,
-
ingin menghindari gaya hidup yang tidak sehat,
-
ingin berhenti menunda pekerjaan,
-
ingin keluar dari kebiasaan yang menghambat.
Pada pola ini, seseorang mungkin lebih terdorong ketika menyadari konsekuensi jika tidak segera melakukan perubahan.
Namun, bukan berarti salah satu pola selalu lebih baik. Keduanya bisa berguna tergantung situasi.
Bagaimana Mengetahui Pemicu Motivasi Anda?
Coba gunakan latihan sederhana berikut.
Bayangkan Anda berhasil mencapai kondisi keuangan yang jauh lebih baik.
Mana yang lebih menarik bagi Anda?
A. Anda tidak lagi khawatir menghadapi tagihan, memiliki dana cadangan, dan merasa lebih aman menghadapi keadaan tak terduga.
B. Anda bisa mewujudkan berbagai rencana yang selama ini tertunda, seperti bepergian, membeli sesuatu yang diinginkan, atau membangun proyek pribadi.
Jika pilihan A terasa lebih kuat, Anda mungkin lebih responsif terhadap motivasi yang berorientasi pada keamanan dan pengurangan masalah.
Jika B lebih menggugah, Anda mungkin lebih mudah bergerak ketika membayangkan pencapaian dan kemungkinan baru.
Tetapi jangan terlalu cepat memberi label pada diri sendiri. Manusia tidak sesederhana dua kategori. Motivasi dapat berubah berdasarkan tujuan, lingkungan, pengalaman, dan kondisi yang sedang dihadapi.
Jadikan latihan ini sebagai alat memahami diri, bukan sebagai kotak kepribadian.
Gunakan Motivasi Sesuai Tujuan
Setelah mengetahui apa yang biasanya membuat Anda tertarik untuk bergerak, langkah berikutnya adalah mengubah cara Anda menetapkan tujuan.
Misalnya Anda ingin mulai menabung.
Jika Anda lebih termotivasi oleh hasil yang ingin dicapai, jangan hanya menulis:
“Saya harus mengurangi pengeluaran.”
Buat tujuan yang lebih konkret:
“Saya ingin mengumpulkan dana untuk membeli laptop yang menunjang pekerjaan saya.”
Sebaliknya, jika Anda lebih terdorong oleh keinginan menghindari masalah, Anda bisa menggunakan pendekatan:
“Saya ingin memiliki dana cadangan agar tidak panik ketika ada kebutuhan mendadak.”
Tujuannya sama-sama tentang menabung. Namun, alasan emosional di baliknya berbeda.
Jangan hanya menggunakan satu sisi
Strategi yang lebih kuat justru bisa menggabungkan keduanya.
Contohnya, seseorang ingin meningkatkan keterampilan digital.
Arah positif:
“Saya ingin memiliki kemampuan yang bisa membuka peluang kerja dan penghasilan baru.”
Masalah yang ingin dihindari:
“Saya tidak ingin tertinggal ketika tuntutan pekerjaan terus berubah.”
Dengan begitu, Anda memiliki dua alasan untuk tetap bergerak ketika motivasi mulai turun.
Motivasi Jangka Panjang Tidak Cukup Hanya dengan Semangat
Salah satu kesalahan umum dalam pengembangan diri adalah menganggap motivasi harus selalu tinggi.
Padahal, motivasi bisa naik dan turun.
Hari ini Anda mungkin sangat bersemangat membuat bisnis. Minggu depan, setelah menghadapi pekerjaan rutin, kegagalan kecil, atau hasil yang belum terlihat, semangat tersebut bisa berkurang.
Karena itu, jangan membangun tujuan hanya berdasarkan perasaan.
Gabungkan motivasi dengan sistem sederhana:
-
tentukan tujuan yang spesifik,
-
pecah tujuan besar menjadi tugas kecil,
-
jadwalkan waktu untuk mengerjakannya,
-
pantau kemajuan,
-
evaluasi apa yang menghambat,
-
berikan penghargaan kecil atas kemajuan yang nyata.
Motivasi membantu Anda memulai, sedangkan sistem membantu Anda tetap berjalan.
Contoh Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Misalnya Anda ingin mulai berolahraga.
Jangan hanya mengatakan:
“Saya harus lebih sehat.”
Buat alasan yang lebih personal.
Jika Anda berorientasi pada hasil:
“Saya ingin memiliki tubuh yang lebih bugar sehingga bisa melakukan aktivitas tanpa cepat lelah.”
Jika Anda lebih sensitif terhadap masalah yang ingin dihindari:
“Saya tidak ingin terus menjalani kebiasaan yang membuat tubuh semakin tidak aktif.”
Kemudian ubah tujuan tersebut menjadi tindakan kecil:
-
berjalan 20–30 menit,
-
mengurangi waktu duduk terlalu lama,
-
membuat jadwal olahraga,
-
mencatat perkembangan secara berkala.
Dengan demikian, motivasi tidak berhenti sebagai sebuah pemikiran.
Checklist Menemukan Pemicu Motivasi Anda
Sebelum menetapkan tujuan berikutnya, tanyakan:
Apa sebenarnya yang ingin saya capai?
Mengapa tujuan ini penting bagi saya?
Apakah saya lebih tertarik pada hasil yang ingin diperoleh?
Atau saya lebih terdorong untuk meninggalkan masalah tertentu?
Apa manfaat jika saya berhasil?
Apa konsekuensinya jika saya terus tidak berubah?
Langkah terkecil apa yang bisa saya lakukan hari ini?
Sistem apa yang akan membantu saya tetap konsisten ketika semangat menurun?
Jawaban-jawaban tersebut dapat membantu Anda membuat tujuan yang lebih personal dan realistis.
Kesimpulan
Memahami motivation theory seperti konsep toward dan away-from dapat menjadi cara menarik untuk melihat bagaimana seseorang merespons tujuan. Namun, jangan menganggap diri Anda harus masuk ke satu kategori tertentu.
Yang jauh lebih penting adalah mengetahui alasan apa yang membuat Anda mau bergerak, lalu mengubah alasan tersebut menjadi tindakan nyata.
Jika membayangkan masa depan yang lebih baik membuat Anda bersemangat, gunakan gambaran tersebut sebagai bahan bakar. Jika keinginan keluar dari masalah tertentu membuat Anda lebih fokus, gunakan kesadaran itu untuk menentukan langkah.
Pada akhirnya, motivasi bukan tentang menemukan satu formula yang berlaku untuk semua orang. Motivasi yang efektif adalah motivasi yang terhubung dengan alasan pribadi dan diterjemahkan menjadi tindakan yang konsisten.
Mulailah dengan satu tujuan yang benar-benar penting bagi Anda, kemudian tanyakan: Apa yang sebenarnya membuat saya ingin mencapainya?
Jawaban itu bisa menjadi titik awal perubahan Anda.




